Tampilkan postingan dengan label KDPK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KDPK. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Mei 2011

Keterampilan Fisioterapi Dada

  1. Pernafasan Diafragma
    1. Menjelaskan tujuan pernafasan diafragma
    2. Meminta pasien meletakkan satu tangan di atas perut, dibawah tulang iga dan tangan yang lainnya diletakkan pada bagian tengah dada
    3. Meminta pasien menarik nafas perlahan dan dalam melalui hidung, sampai perut mengembang maksimal, perut akan mengembang selama inspirasi dan mengempis selama ekspirasi
    4. Meminta pasien menghembuskan nafas melalui pursed lip sambil menegangkan otot perut dengan kuat ke arah dalam
    5. Meminta pasien agar rongga dada tidak bergerak, perhatian ditujukan pada perut
    6. Mengulangi kira-kira 1 menit dan istirahat 2 menit, lakukan selama 10 menit
    7. Meminta pasien melakukan pernafasan diafragma saat berbaring, duduk, dan akhirnya saat berdiri dan berjalan
    8. Koordinasikan pernafasan difragma pada saat menaiki tangga
    9. Lakukan aktivitas selama masa ekspirasi yang panjang
  2. Pursed Lip Breathing
    1. Menjelaskan tujuan dan prosedur Pursed Lip Breathing
    2. Meminta pasien menarik nafas melalui hidung
    3. Meminta pasien menghembuskan nafas perlahan melalui Pursed Lip Breathing sambil menegangkan otot perut
    4. Meminta pasien menghitung sampai 7 saat menghembuskan nafas yang panjang melalui Pursed Lip
  3. Perkusi dan Vibrasi
    1. Menjelaskan tujuan dan prosedur
    2. Meminta pasien melakukan pernafasn diafragma
    3. Meminta pasien berposisi drainage
    4. Melakukan perkusi pada dinding rongga dada selama 1-2 menit:
      1. Kosta paling bawah sampai bahu pada bagian belakang
      2. Kosta paling bawah sampai kosta atas pada bagian depan
    5. Menganjurkan pasien menarik nafas dalam perlahan, lakukan vibrasi sambil menghembuskan nafas perlahan melalui Pursed Lip:
      1. Letakkan 1 tangan pada daerah yang akan divibrasi dan letakkan tangan lainnya di atasnya
      2. Tegangkan otot tangan dan lengan sambil melakukan tekanan yang cukup dan vibrasikan lengan dan tangan
      3. Angkat tekanan pada dada ketika pasien menarik nafas
      4. Menganjurkan pasien batuk dengan menggunakan otot abdominal setelah 3-4 kali vibrasi
    6. Memberi waktu pasien untuk beristirahat selama beberapa menit
    7. Melakukan auskultasi adanya perubahan pada suara nafas
    8. Mengulangi perkusi dan vibari secara bergantian seusai kondisi pasien, biasanya 15-20 menit

Catatan: Jangan melakukan perkusi di atas tulang belakang, ginjal, hati, limpa, skapula, klavikula, dan sternum

Keterampilan Pemeriksaan Thorax

  1. Tahap Pre-Interaksi
    1. Kaji status klien/ baca status klien
    2. Siapkan peralatan:
    3. Stetoskop
  2. Tahap Orientasi
    1. Berikan salam
    2. Jelaskan tujuan
    3. Jelaskan prosedur tindakan
  3. Tahap Kerja
    1. Beri kesempatan klien/ keluarga bertanya sebelum kegiatan dimulai
    2. Jada etika dan kesopanan selama tindakan
    3. Cuci tangan
    4. Perawat mengambil posisi di sebelah kanan klien
    5. Atur posisi klien
  4. Lakukan Inspeksi
    1. Bentuk thorax depan belakang
    2. Mencari adanya deviasi
    3. Keadaan intercostalis saat inspirasi dan ekspirasi
    4. Adanya pulsasi iktus cordis
    5. Adanya bendungan venosa
  5. Lakukan Auskultasi
    1. Minta klien menarik nafas dengan pelan, mulut terbuka
    2. Lakukan auskultasi dengan urutan yang benar
    3. Dengarkan inspirasi dan ekspirasi pada tiap tempat yang diperiksa
    4. Melakukan auskultasi pada sisi samping ada kanan dan kiri
    5. Auskultasi pada dinding punggung dengan urutan benar
  6. Tahap Terminasi
    1. Evaluasi perasaan klien
    2. Simpulkan hasil kegiatan
    3. Lakukan kontrak kegiatan selanjutnya dan akhiri kegiatan
    4. Bersihkan alat-alat
    5. Cuci tangan
  7. Dokumentasi
    1. Catat waktu, tindakan, hasil/ respon, tanda tangan perawat

Keterampilan Pemberian Obat Intra-Muskuler (IM)

  1. Tahap Pre-Interaksi:
    1. Baca catatan perawatan pemberian obat melalui intra muskuler
    2. Cuci tangan
    3. Siapkan alat-alat:
    4. Spuit (2 jarum steril)
    5. Obat yang digunakan
    6. Gergaji ampul (jika perlu)
    7. Kapas alkohol
    8. Bengkok
    9. Aquades
    10. Daftar pemberian obat
    11. (Alat-alat disusun dalam baki yang beralas dan tertutup)
  2. Tahap Orientasi:
    1. Beri salam, panggil klien dengan namanya
    2. Jelaskan tujuan dan prosedur tindakan pada klien dan keluarga
  3. Tahap Kerja:
    1. Beri kesempatan klien untuk bertanya sebelum kegiatan dilakukan
    2. Pertahankan privasi klien selama tindakan dilakukan
    3. Membawa alat ke dekat pasien
    4. Mencuci tangan
    5. Memakai handscoen
    6. Mencocokkan daftar pemberian obat dengan identitas pasien
    7. Decinfeksi botol/ ampul obat
    8. Dengan menggunakan spuit jarum yang lebih besar, obat dihisap sesuai dengan kebutuhan dan ganti jarumnya dengan yang baru, kemudian keluarkan udara jika ada
    9. Jarum yang telah digunakan untuk mengambil obat ditempatkan pada bengkok, kemudian spuit yang telah terisi obat disimpan dalam bak instrumen yang telah dialasi dengan kassa steril
    10. Menentukan daerah suntikan dan membebaskan daerah suntikan
    11. Desinfeksi daerah yang akan disuntik dengan kapas alkohol, tunggu sampai kering
    12. Dengan tangan kiri meregangkan kulit yang akan disuntik, kemudian tangan kanan menusukkan jarum ke dalam otot dengan sudut 90O terhadap permukaan kulit
    13. Mengontrol jarum masuk ke pembuluh darah (vena)/ tidak dengan menarik penghisap/ piston, jika tidak keluar darah maka obat dimasukkan secara pelan, tapi jika ada darah maka obat jangan dimasukkan dan jarum harus dicabut, kemudian pindah ke daerah suntikan lain (ulangi cara yang sama)
    14. Dengan kapas alkohol menekan daerah suntikan dan jarum dicabut dengan cepat
    15. Daerah suntikan di massage
    16. Merapikan pasien
  4. Tahap Terminasi:
    1. Evaluasi perasaan klien
    2. Simpulkan hasil kegiatan
    3. Lakukan kontak untuk kegiatan selanjutnya
    4. Akhiri kegiatan, bersihkan alat-alat
    5. Cuci tangan
  5. Dokumentasi:
    1. catat waktu, dosis, tempat dan reaksi pasien
Sumber:
Buku Panduan Praktikum Mata Kuliah Ketrampilan Dasar Praktik Klinik
Departemen Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Surakarta
Jurusan Kebidanan
2010

Selasa, 17 Mei 2011

Ambubag atau Bag Valve Mask (BVM)

Apa itu Ambubag/ BVM?

Bag Valve Mask yang juga dikenal BVM atau Ambubag adalah alat yang digunakan untuk memberikan tekanan pada sistem pernafasan pasien yang henti nafas atau yang nafasnya tidak adekuat. Alat ini umumnya merupakan bagian dari peralatan resusitasi untuk tenaga ahli, seperti pekerja Ambulans. BVM/ Ambubag sering digunakan di rumah sakit dan juga pada peralatan dasar untuk tabrakan mobil. Alat ini digunakan secara ekstensif di ruang operasi untuk bantuan pernafasan pasien yang tidak sadar pada saat sebelum diberikan bantuan pernafasan mekanik.

Ambu bag terdiri dari bag yang berfungsi untuk memompa oksigen udara bebas, valve/pipa berkatup dan masker yang menutupi mulut dan hidung penderita. Penggunaan ambu bag atau bagging sungkup memerlukan keterampilan tersendiri dalam hal memberikan bantuan nafas. Penolong seorang diri dalam menggunakan ambubag harus dapat mempertahankan terbukanya jalan nafas dengan mengangkat rahang bawah, menekan sungkup ke muka korban dengan kuat dan memompa udara dengan memeras bagging. Penolong harus dapat melihat dengan jelas pergerakan dada korban pada setiap pernafasan. Ambubag sangat efektif bila dilakukan oleh dua orang penolong yang berpengalaman. Salah seorang penolong membuka jalan nafas dan menempelkan sungkup wajah korban dan penolong lain memeras bagging. Kedua penolong harus memperhatikan pengembangan dada korban
Bagaimana cara menggunakan Ambubag/ BVM?
Ambu bag digunakan dengan satu tangan penolong memegang bag sambil memompa udara sedangkan tangan lainnya memegang dan memfiksasi masker. Pada Tangan yang memegang masker, ibu jari dan jari telunjuk memegang masker membentuk huruf C sedangkan jari-jari lainnya memegang rahang bawah penderita sekaligus membuka jalan nafas penderita dengan membentuk huruf E. Konsentrasi oksigen yang dihasilkan dari ambu bag sekitar 20 %. Dapat ditingkatkan menjadi 100% dengan tambahan oksigen. Untuk kondisi yang mana penderita mengalami henti nafas dan henti jantung, dilakukan resusitasi jantung-paru-otak.


Sumber:
en.wikipedia.org
dokter-medis.blogspot.com

Survei Sekunder (Secondary Survey)

Pengertian:
Mencari perubahan-perubahan yang dapat berkembang menjadi lebih gawat dan mengancam jiwa apabila tidak segera diatasi dengan pemeriksaan dari kepala sampai kaki (head to toe)

Tujuan:
Untuk mendeteksi penyakit atau trauma yang diderita pasien sehingga dapat ditangani lebih lanjut

Peralatan:
Stetoskop, tensi meter, jam, lampu pemeriksaan/senter, gunting, thermometer, catatan, alat tulis

Prosedur:
  1. Anamnesis:
    1. Riwayat “AMPE” yang harus diingat yaitu :
      1. A : Alergi
      2. M : Medikasi (obat yang diminum sebelumnya)
      3. P : Past illness (penyakit sebelumnya)/Pregnancy (hamil)
      4. E : Event/environment (lingkungan yang berhubungan dengan kegawatan)
  2. Pemeriksaan fisik:
    1. Pemeriksaan kondisi umum menyeluruh
      1. Posisi saat ditemukan
      2. Tingkat kesadaran
      3. Sikap umum, keluhan
      4. Trauma, kelainan
      5. Keadaan kulit
    2. Periksa kepala dan leher
      1. Rambut dan kulit kepala
        1. Perdarahan, pengelupasan, perlukaan, penekanan
      2. Telinga
        1. Perlukaan, darah, cairan
      3. Mata
        1. Perlukaan, pembengkakan, perdarahan, reflek pupil, kondisi kelopak mata, adanya benda asing, pergerakan abnormal
      4. Hidung
        1. Perlukaan, darah, cairan, nafas cuping hidung, kelainan anatomi akibat trauma
      5. Mulut
        1. Perlukaan, darah, muntahan, benda asing, gigi, bau, dapat buka mulut/ tidak
      6. Bibir
        1. Perlukaan, perdarahan, sianosis, kering
      7. Rahang
        1. Perlukaan, stabilitas, krepitasi
      8. Kulit
        1. Perlukaan, basah/kering, darah, suhu, warna
      9. Leher
        1. Perlukaan, bendungan vena, deviasi trakea, spasme otot, stoma, stabilitas tulang leher
    3. Periksa dada
      1. Flail chest, nafas diafragma, kelainan bentuk, tarikan antar iga, nyeri tekan, perlukaan (luka terbuka, luka mengisap), suara ketuk/perkusi, suara nafas
    4. Periksa perut
      1. Perlukaan, distensi, tegang, kendor, nyeri tekan, undulasi
    5. Periksa tulang belakang
      1. Kelainan bentuk, nyeri tekan, spasme otot
    6. Periksa pelvis/genetalia
      1. Perlukaan, nyeri, pembengkakan, krepitasi, inkontinensia
    7. Periksa ekstremitas atas dan bawah
      1. Perlukaan, angulasi, hambatan pergerakan, gangguan rasa, bengkak, denyut nadi, warna luka
  3. Perhatian!
    1. Perhatikan tanda-tanda vital (sesuai dengan survei primer)
    2. Pada kasus trauma, pemeriksaan setiap tahap selalu dimulai dengan pertanyaan adakah: D-E-C-A-P-B-L-S
      1. D : Deformitas
      2. E : Ekskoriasi
      3. C : Contusio
      4. A : Abrasi
      5. P : Penetrasi
      6. B : Bullae/Burn
      7. L : Laserasi
      8. S : Swelling/Sembab
    3. Pada dugaan patah tulang selalu dimulai dengan pertanyaan adakah: P-I-C
      1. P : Pain
      2. I : Instabilitas
      3. C : Crepitasi
Sumber:
dokter-medis.blogspot.com

Survei Primer (Primary Survey)

Pengertian:
Deteksi cepat dan koreksi segera terhadap kondisi yang mengancam

Tujuan:
Untuk mengetahui kondisi pasien yang mengancam jiwa dan kemudian dilakukan tindakan life saving.

Cara pelaksanaan:
(harus berurutan dan simultan)
  1. Jalan nafas (airway)
    1. Lihat, dengar, raba (Look, Listen, Feel)
    2. Buka jalan nafas, yakinkan adekuat
    3. Bebaskan jalan nafas dengan proteksi tulang cervical dengan menggunakan teknik Head Tilt/Chin Lift/Jaw Trust, hati-hati pada korban trauma
    4. Cross finger untuk mendeteksi sumbatan pada daerah mulut
    5. Finger sweep untuk membersihkan sumbatan di daerah mulut
    6. Suctioning bila perlu
  2. Pernafasan (breathing)
    1. Lihat, dengar, rasakan udara yang keluar dari hidung/mulut, apakah ada pertukaran hawa panas yang adekuat, frekuensi nafas, kualitas nafas, keteraturan nafas atau tidak
  3. Perdarahan (circulation)
    1. Lihat adanya perdarahan eksterna/interna
    2. Hentikan perdarahan eksterna dengan Rest, Ice, Compress, Elevation (istirahatkan lokasi luka, kompres es, tekan/bebat, tinggikan)
    3. Perhatikan tanda-tanda syok/ gangguan sirkulasi: capillary refill time, nadi, sianosis, pulsus arteri distal
  4. Susunan Saraf Pusat (disability)
    1. Cek kesadaran
    2. Adakah cedera kepala?
    3. Adakah cedera leher?
    4. Perhatikan cedera pada tulang belakang
  5. Kontrol Lingkungan (Exposure/ environmental )
    1. Buka baju penderita lihat kemungkinan cedera yang timbul tetapi cegah hipotermi/kedinginan
 Sumber: dokter-medis.blogspot.com

Resusitasi Jantung Paru (RJP)

Pengertian:
Tindakan yang dilakukan untuk mengatasi henti nafas dan henti jantung

Tujuan:
Untuk mengatasi henti nafas dan henti jantung sehingga dapat pulih kembali

Indikasi:
  1. Henti nafas (Respiratory Arrest), henti nafas yang bukan disebabkan gangguan pada jalan nafas dapat terjadi karena gangguan pada sirkulasi (asistole, bradikardia, fibrilasi ventrikel)
  2. Henti jantung (Cardiac Arrest) dapat disebabkan oleh beberapa hal seperti:
    1. Hipoksemia karena berbagai sebab
    2. Gangguan elektrolit (hipokalemia, hiperkalemia, hipomagnesia)
    3. Gangguan irama jantung (aritmia)
    4. Penekanan mekanik pada jantung (tamponade jantung, tension pneumothoraks)
Diagnosis:
  1. Tidak terdapat adanya pernafasan (dengan cara Look-Listen-Feel)
  2. Tidak ada denyut jantung karotis
Perhatian:
Pada pasien yang telah terpasang monitor EKG dan terdapat gambaran asistole pada layar monitor, harus selalu dicek denyut nadi karotis untuk memastikan adanya denyut jantung. Begitu juga sebaliknya pada pasien terpasang monitor EKG yang telah di-RJP terdapat gambaran gelombang EKG harus diperiksa denyut nadi karotis untuk memastikan apakah sudah teraba nadi (henti jantung sudah teratasi) atau hanya gambaran EKG pulseless. Jika nadi karotis belum teraba maka RJP dilanjutkan

Tindakan:
  1. Tanpa alat:
    1. 1 (satu) orang penolong : memberikan pernafasan buatan dan pijat jantung luar dengan perbandingan 2:30 dalam 2 menit (5 siklus). Tiap 5 siklus dievaluasi dengan mengecek pernafasan (LLF) dan jantung (perabaan nadi karotis). Jika masih henti jantung dan henti nafas, RJP dilanjutkan
    2. 2 (dua) orang penolong: memberikan pernafasan buatan dan pijat jantung luar yang dilakukan oleh masing-masing penolong secara bergantian dengan perbandingan 2:30 dalam 2 menit (5 siklus). Tiap 5 siklus dievaluasi dengan mengecek pernafasan (LLF) dan jantung (perabaan nadi karotis). Jika masih henti jantung dan henti nafas, RJP dilanjutkan dengan berganti orang
    3. Pijat jantung luar diusahakan 100 kali/menit
  2. Dengan alat:
    1. Untuk mencapai hasil RJP yang lebih baik harus segera diusahakan pemasangan intubasi endotrakeal
RJP dihentikan bila:
  1. Jantung sudah berdetak ditandai adanya nadi dan nafas sudah spontan
  2. Mengecek nadi dan pernafasan
  3. Penolong sudah kelelahan
  4. Pasien dinyatakan tidak mempunyai harapan lagi/meninggal

 Sumber: dokter-medis.blogspot.com

Aplikasi Resusitasi Jantung Paru (RJP) dan Cara Melakukan RJP pada Dewasa, Anak, Bayi dan Situasi Khusus meliputi Tenggelam, Hipotermi, dan Sumbatan Jalan Nafas oleh Benda Asing

 Aplikasi RJP:
  1. Jika kita melihat pasien/korban yang tergeletak tampak tidak, pertama kali yang kita harus lakukan adalah memastikan bahwa lingkungan di sekitar korban yang tergeletak itu aman. Jika belum aman (misalnya korban tergeletak di tengah jalan raya atau di dalam gedung terbakar), maka korban harus dievakuasi/dipindah terlebih dahulu ke tempat yang aman dan memungkinkan mendapatkan pertolongan.
  2. Nilai respon pasien apakah pasien benar-benar tidak sadar atau hanya tidur saja. Mengecek kesadarannya dengan cara memanggil-manggil nama pasien, menepuk atau menggoyang bahu pasien, misalnya “Pak-pak bangun !” atau “Bapak baik-baik saja?” Jika masih belum sadar atau bangun juga bisa diberi rangsang nyeri seperti menekan pangkal kuku jari. Jika pasien sadar, tanyakan mengapa ia terbaring di tempat ini. Jika pasien sadar, terlihat kesakitan atau terluka segera cari bantuan dan kemudian kembali sesegera mungkin untuk menilai kondisi pasien.
  3. Jika tidak ada respon berarti pasien tidak sadar. Aktifkan sistem emergensi dengan cara meminta tolong dibawakan alat-alat emergensi atau dipanggilkan petugas terlatih atau ambulan jika berada di luar RS. Misalnya ‘Tolong ada pasien tidak sadar di ruang A, ”tolong panggil petugas emergensi ” atau ”Tolong ambil alat-alat emergensi ada pasien tidak sadar di ruang A”. Jika di lapangan : ”Tolong ada pasien tidak sadar di pantai tolong panggil ambulan atau 118 ”. Jika yang menemukan korban tidak sadar lebih dari satu orang, maka satu orang mengaktifkan sistem emergensi sedangkan lainnya menilai kondisi pasien. INGAT ! Dalam menolong pasien tidak sadar, kita tidak mungkin bekerja sendiri jadi harus meminta bantuan orang lain. Dalam meminta bantuan, penolong harus menginformasikan kepada petugas gawat darurat mengenai lokasi kejadian, penyebabnya, jumlah dan kondisi korban dan jenis pertolongan yang akan diberikan. Jika tersedia alat defibrilator dengan AED (Automatic Emergency Defibrilator), maka kita dapat menyiapkannya untuk pemeriksaan heart rate dan irama jantung dan jika ada indikasi melakukan defibrilasi.
  4. Gunakan manuver chin lift untuk membuka jalan nafas korban yang tidak mengalami cedera kepala dan leher. Jika diperkirakan ada trauma leher maka gunakan tehnik jaw thrust. Untuk lebih jelas lihat kembali pengelolaan jalan nafas.Periksa pernafasan dengan menggunakan tehnik LLF (Look, Listen, Feel) dengan tetap mempertahankan terbukanya jalan nafas selama 10 detik. Teknik LLF dapat dilihat di pengelolaan jalan nafas.
  5. Jika yakin tidak ada pernafasan maka segera beri nafas buatan dua kali pernafasan dengan tetap menjamin terbukanya jalan nafas. Bisa dengan mulut ke mulut/hidung atau dengan menggunakan sungkup muka. Satu kali pernafasan selama satu detik sampai dada tampak mengembang. Jika dada tidak mengembang kemungkinan pemberian nafas buatan tidak adekuat atau jalan nafas tersumbat.
  6. Setelah nafas buatan diberikan segera nilai sirkulasi dengan mengecek nadi arteri karotis. Nadi carotis dapat diraba dengan menggunakan 2 atau 3 jari menempel pada daerah kira-kira 2 cm dari garis tengah leher atau jakun pada sisi yang paling dekat dengan pemeriksa. Waktu yang tersedia untuk mengukur nadi carotis sekitar 5 – 10 detik.
  7. Jika nadi teraba, nafas buatan diteruskan dengan kecepatan 10-12 kali/menit atau satu kali pernafasan diberikan setiap 5-6 detik disertai pemberian oksigen dan pemasangan infus. Jika perlu pemasangan ETT dan ventilator. Pemantauan/monitoring terus dilakukan. Pemeriksaan denyut nadi dilakukan setiap 2 menit sampai pasien stabil. Pasien dirawat di ruang Intensif Care Unit (ICU). Penyebab henti nafas harus dicari dengan melakukan anamnesis pada keluarga penderita dan pemeriksaan fisik
  8. Pikirkan penyebabnya hipotensi/syok, edema paru, infark myokard dan aritmia. Aritmia bisa berupa aritmia yang sangat cepat seperti Supra Ventrikel Takikardi (SVT), atrial flutter, atrial fibrilasi, ventrikel takikardi. Aritmia sangat lambat bisa berupa AV blok derajat II dan derajat III. Koreksi penyebab atau konsul ke dokter ahli.
  9. Jika nadi tidak teraba segera lakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP) dengan perbandingan kompresi dada (pijat jantung luar) 30 dan ventilasi (nafas buatan) 2. Kecepatan kompresi dada adalah 100 kali/menit. Kompresi dada merupakan tindakan yang berirama berupa penekanan telapak tangan pada tulang sternum sepertiga bagian bawah dengan tujuan memompa jantung dari luar sehingga aliran darah terbentuk dan dapat mengalirkan oksigen ke otak dan jaringan tubuh. Usahakan mengurangi penghentian kompresi dada selama RJP.
 
Cara melakukan RJP:
  1. Penderita harus berbaring terlentang di atas alas yang keras. Posisi penolong berlutut di sisi korban sejajar dengan dada penderita.
  2. Penolong meletakkan bagian yang keras telapak tangan pertama penolong di atas tulang sternum di tengah dada di antara kedua puting susu penderita (2-3 jari di atas prosesus Xihoideus) dan letakkan telapak tangan kedua di atas telapak tangan pertama sehingga telapak tangan saling menumpuk. Kedua lutut penolong merapat, lutut menempel bahu korban, kedua lengan tegak lurus, pijatan dengan cara menjatuhkan berat badan penolong ke sternum.
  3. Tekan tulang sternum sedalam 4-5 cm (1 ½ - 2 inci) kemudian biarkan dada kembali normal (relaksasi). Waktu kompresi dan relaksasi dada diusahakan sama. Jika ada dua penolong, penolong pertama sedang melakukan kompresi maka penolong kedua sambil menunggu pemberian ventilasi sebaiknya meraba arteri karotis untuk mengetahui apakah kompresi yang dilakukan sudah efektif. Jika nadi teraba berarti kompresi efektif.
  4. Setelah 30 kali kompresi dihentikan diteruskan dengan pemberian ventilasi 2 kali (1 siklus = 30 kali kompres dan 2 kali ventilasi). Setiap 5 siklus dilakukan monitoring denyut nadi dan pergantian posisi penolong jika penolong lebih dari satu orang.
  5. Jika terpasang ETT maka tidak menggunakan siklus 30 : 2 lagi. Kompresi dilakukan dengan kecepatan 100 kali/menit tanpa berhenti dan ventilasi dilakukan 8-10 kali/menit. Setiap 2 menit dilakukan pergantian posisi untuk mencegah kelelahan.
RJP pada anak:
  1. Letakkan penderita pada posisi terlentang di atas alas yang keras
  2. Tiup nafas dua kali (tanpa alat atau dengan alat)
  3. Pijat jantung dengan menggunakan satu tangan dengan bertumpu pada telapak tangan di atas tulang dada, di tengah sternum.
  4. Penekanan tulang dada dilakukan sampai turun ± 3-4 cm dengan frekuensi 100 kali/menit.
RJP pada bayi:
  1. Letakkan penderita pada posisi terlentang di atas alas yang keras
  2. Tiup nafas 2 kali
  3. Untuk pijat jantung gunakan penekanan dua atau tiga jari. Bisa menggunakan ibu jari tangan kanan dan kiri menekan dada dengan kedua tangan melingkari punggung dan dada bayi. Bisa juga dengan menggunakan jari telunjuk, jari tengah dan atau jari manis langsung menekan dada.
  4. Tekan tulang dada sampai turun kira-kira sepertiga diameter anterior-posterior rongga dada bayi dengan frekuensi minimal 100 kali/menit.
RJP pada situasi khusus:
  1. Tenggelam
    1. Tenggelam merupakan penyebab kematian yang dapat dicegah. Keberhasilan menolong korban tenggelam tergantung dari lama dan beratnya derajat hipoksia.
    2. Penolong harus melakukan RJP terutama memberikan bantuan nafas, secepat mungkin setelah korban dikeluarkan dari air. Setelah melakukan RJP selama 5 siklus barulah seorang penolong mengaktifkan system emergensi. Manuver yang dilakukan untuk menghilangkan sumbatan jalan nafas tidak direkomendasikan karena bisa menyebabkan trauma, muntah dan aspirasi serta memperlambat RJP.
  2. Hipotermi
    1. Pada pasien tidak sadar oleh karena hipotermi, penolong harus menilai pernafasan untuk mengetahui ada tidaknya henti nafas dan menilai denyut nadi unuk menilai ada tidaknya henti jantung atau adanya bradikardi selama 30-45 detik karena frekuensi jantung dan pernafasan sangat lambat tergantung derajat hipotermi.
    2. Jika korban tidak bernafas, segera beri pernafasan buatan. Jika nadi tidak ada segera lakukan kompresi dada. Jangan menunggu suhu tubuh menjadi hangat. Untuk mencegah hilangnya panas tubuh korban, lepaskan pakaian basah, beri selimut hangat jika mungkin beri oksigen hangat.
  3. Sumbatan jalan nafas oleh benda asing
    1. Lihat di pengeloaan jalan nafas
    2. Posisi sisi mantap (recovery position)
      1. Posisi ini digunakan untuk korban yang tidak sadar yang telah bernafas normal dan sirkulasi aman. Posisi ini dibuat untuk menjaga jalan nafas tetap terbuka dan mengurangi risiko sumbatan jalan nafas dan aspirasi. Caranya korban diletakkan miring pada salah satu sisi tubuh dengan tangan yang dibawah berada di depan badan.

Sumber:
dokter-medis.blogspot.com

Pemasangan Slang Nasogastrik (NGT)

Insersi slang nasogastrik meliputi pemasangan slang plastik lunak melalui nasofaring klien ke dalam lambung. Slang mempunyai lumen berongga yang memungkinkan baik pembuangan sekret gastrik dan pemasukan cairan ke dalam lambung.
  1. PERALATAN
    1. Slang nasogastrik (ukuran 14-18 fr)
    2. Pelumas/ jelly
    3. Spuit berujung kateter 60 ml
    4. Stetoskop
    5. lampu senter/ pen light
    6. klem
    7. Handuk kecil
    8. Tissue
    9. Spatel lidah
    10. Sarung tangan dispossible
    11. Plester
    12. Nierbekken
    13. Bak instrumen
  2. TUJUAN
    1. memungkinkan dukungan nutrisi melalui saluran gastrointestinal
    2. memungkinkan evakuasi isi lambung
    3. menghilangkan mual
  3. HASIL YANG DIHARAPKAN
    1. Klien menambah berat badannya 1/2 sampai 1 kg per minggu
    2. Klien tidak mempunyai keluhan mual atau muntah
  4. PENGKAJIAN
    1. Pengkajian harus berfokus pada:
      1. Instruksi dokter tentang tipe slang dan penggunaan slang
      2. Ukuran slang yang digunakan sebelumnya, jika ada
      3. Riwayat masalah sinus atau nasal
      4. Distensi abdomen, nyeri atau mual
  5. LANGKAH PELAKSANAAN
    1. Cuci tangan dan atur peralatan
    2. Jelaskan prosedur pada klien
    3. Bantu klien untuk posisi semifowler
    4. Berdirilah disisi kanan tempat tidur klien bila anda bertangan dominan kanan(atau sisi kiri bila anda bertangan dominan kiri)
    5. Periksa dan perbaiki kepatenan nasal:Minta klien untuk bernafas melalui satu lubang hidung saat lubang yang lain tersumbat, ulangi pada lubang hidung yang lain, Bersihkan mukus dan sekresi dari hidung dengan tissue lembab atau lidi kapas
    6. Tempatkan handuk mandi diatas dada klien. Pertahankan tissue wajah dalam jangkauan klien
    7. Gunakan sarung tangan
    8. Tentukan panjang slang yang akan dimasukkan dan ditandai dengan plester.
      Ukur jarak dari lubang hidung ke daun telinga, dengan menempatkan ujung melingkar slang pada daun telinga; Lanjutkan pengukuran dari daun telinga ke tonjolan sternum; tandai lokasi tonjolan sternum di sepanjang slang dengan plester kecil
    9. Minta klien menengadahkan kepala, masukkan selang ke dalam lubang hidung yang paling bersih
    10. Pada saat anda memasukkan slang lebih dalam ke hidung, minta klien menahan kepala dan leher lurus dan membuka mulut
    11. Ketika slang terlihat dan klien bisa merasakan slang dalam faring, instruksikan klien untuk menekuk kepala ke depan dan menelan
    12. Masukkan slang lebih dalam ke esofagus dengan memberikan tekanan lembut tanpa memaksa saat klien menelan (jika klien batuk atau slang menggulung di tenggorokan, tarik slang ke faring dan ulangi langkah-langkahnya), diantara upaya tersebut dorong klien untuk bernafas dalam
    13. Ketika tanda plester pada selang mencapai jalan masuk ke lubang hidung, hentikan insersi selang dan periksa penempatannya:minta klien membuka mulut untuk melihat slang, Aspirasi dengan spuit dan pantau drainase lambung, tarik udara ke dalam spuit sebanyak 10-20 ml masukkan ke selang dan dorong udara sambil mendengarkan lambung dengan stetoskop jika terdengar gemuruh, fiksasi slang.
    14. Untuk mengamankan slang: gunting bagian tengah plester sepanjang 2 inchi, sisakan 1 inci tetap utuh, tempelkan 1 inchi plester pada lubang hidung, lilitkan salah satu ujung, kemudian yang lain, satu sisi plester lilitan mengitari slang
    15. Plesterkan slang secara melengkung ke satu sisi wajah klien. Pita karet dapat digunakan untuk memfiksasi slang.
  6. DOKUMENTASI
    1. Catat hal-hal berikut pada lembar dokumentasi:
      1. Tanggal dan waktu insersi slang
      2. Warna dan jumlah drainase
      3. ukuran dan tipe slang
      4. Toleransi klien terhadap prosedur

Sumber: athearobiansyah.blogspot.com

Prosedur Pemasangan Infus

URAIAN UMUM
Pemberian cairan obat/makanan melalui pembuluh darah vena

  1. PERSIAPAN
    1. Persiapan Klien
      1. Cek perencanaan perawatan klien
      2. Klien diberi penjelasan tentang prosedur yang akan dilakukan
    2. Persiapan Alat
      1. Standar infus
      2. Cairan infus dan infus set sesuai kebutuhan
      3. Jarum/wings needle/abocath sesuai dengan ukuran yang dibutuhkan
      4. Bidai/alas infus
      5. Perlak dan torniquet
      6. Plester dan gunting
      7. Bengkok
      8. Sarung tangan bersih
      9. Kassa steril
      10. Kapas alkohol dalam tempatnya
      11. Bethadine dalam tempatnya 
  2. PELAKSANAAN
    1. Perawat cuci tangan
    2. Memberitahu tindakan yang akan dilakukan dan pasang sampiran 
    3. Mengisi selang infus
      1. Membuka plastik infus set dengan benar 
      2. Tetap melindungi ujung selang seteril
      3. Menggantungkan infus set dengan cairan infus dengan posisi cairan infus mengarah keatas
      4. Menggantung cairan infus di standar cairan infus
      5. Mengisi kompartemen infus set dengan cara menekan (tapi jangan sampai terendam)
      6. Mengisi selang infus dengan cairan yang benar
      7. Menutup ujung selang dan tutup dengan mempertahankan keseterilan
      8. Cek adanya udara dalam selang
    4. Pakai sarung tangan bersih bila perlu
    5. Memilih posisi yang tepat untuk memasang infus
    6. Meletakan perlak dan pengalas dibawah bagian yang akan dipungsi
    7. Memilih vena yang tepat dan benar
    8. Memasang torniquet
    9. Desinfeksi vena dengan tekhnik yang benar dengan alkohol dengan tekhnik sirkuler atau dari atas ke bawah sekali hapus 
    10. Buka kateter (abocath) dan periksa apakah ada kerusakan
    11. Menusukan kateter/abocath pada vena yang telah dipilih dengan apa arah dari arah samping
    12. Memperhatikan adanya darah dalam kompartemen darah dalam kateter, bila ada maka mandrin sedikit demi sedikit ditarik keluar sambil kateter dimasukan perlahan-lahan
    13. Torniquet dicabut 
    14. Menyambungkan dengan ujung selang yang telah terlebih dahulu dikeluarkan cairannya sedikit, dan sambil dibiarkan menetes sedikit
    15. Memberi plester pada ujung plastik kateter/abocath tapi tidak menyentuh area penusukan untuk fiksasi
    16. Membalut dengan kassa bethadine seteril dan menutupnya dengan kassa seteril kering
    17. Memberi plester dengan benar dan mempertahankan keamanan kateter/abocath agar tidak tercabut
    18. Mengatur tetasan infus sesuai dengan kebutuhan klien
    19. Alat-alat dibereskan dan perhatikan respon klien 
    20. Perawat cuci tangan
    21. Catat tindakan yang dilakukan
  3. EVALUASI
    1. Perhatikan kelancaran infus
    2. Perhatikian juga respon klien terhadap pemberian tindakan
  4. DOKUMENTASI
    1. Mencatat tindakan yang telah dilakukan (waktu pelaksanaan, hasil tindakan, reaksi/respon klien terhadap pemasangan)
Sumber: keperawatankita.wordpress.com

Prosedur Pemberian Obat (Injeksi Intravena)

  1. PENGERTIAN
    1. Memasukkan cairan obat langsung kedalam pembuluh darah vena sehingga obat langsung masuk ke dalam sistem sirkulasi darah.
  2. TUJUAN
    1. Memasukkan obat secara cepat
    2. Mempercepat penyerapan obat
  3. LOKASI INJEKSI
    1. Pada lengan (vena mediana cubiti/vena cephalica )
    2. Pada tungkai (vena saphenosus)
    3. Pada leher (vena jugularis) khusus pada anak
    4. Pada kepala (vena frontalis, atau vena temporalis) khusus pada anak
  4. PERSIAPAN ALAT
    1. Handscoen 1 pasang
    2. Spuit steril 3 ml atau 5 ml atau sesuai kebutuhan
    3. Bak instrument
    4. Kom berisi kapas alkohol
    5. Perlak dan pengalas
    6. Bengkok
    7. Obat injeksi dalam vial atau ampul
    8. Daftar pemberian obat
    9. Torniquet
    10. Kikir ampul bila diperlukan
  5. PROSEDUR PELAKSANAAN PEMBERIAN OBAT
    1. Fase orientasi
      1. Salam terapeutik
      2. Evaluasi/ validasi
      3. Kontrak
    2. Fase kerja
      1. Siapkan peralatan ke dekat pasien
      2. Mengidentifikasi pasien dengan prinsip enam B (Benar obat, dosis, pasien, cara pemberian, waktu dan dokumentasi)
      3. Pasang sampiran atau tutup tirai untuk menjaga privasi pasien
      4. Mencuci tangan dengan baik dan benar
      5. Memakai handscoon dengan baik
      6. Posisikan pasien dan bebaskan daerah yang akan disuntik dari pakaian pasien
      7. Mematahkan ampul (bila perlu menggunakan kikir)
      8. Memasukkan obat kedalam spuit sesuai dengan advice dokter dengan teknik septik dan aseptik
      9. Menentukan daerah yang akan disuntik
      10. Memasang pengalas dibawah daerah yang akan disuntik
      11. Memasang tourniquet 10-12 cm diatas vena yang akan disuntik sampai vena terlihat jelas
      12. Melakukan desinfeksi menggunakan kapas alkohol pada daerah yang akan disuntik dan biarkan kering sendiri
      13. Memasukkan jarum dengan posisi tepat yaitu lubang jarum menghadap keatas, jarum dan kulit membentuk sudut 45 ̊
      14. Lakukan aspirasi yaitu tarik penghisap sedikit untuk memeriksa apakah jarum sudah masuk kedalam vena yang ditandai dengan darah masuk kedalam tabung spuit (saat aspirasi jika ada darah berarti jarum telah masuk kedalam vena, jika tidak ada darah masukkan sedikit lagi jarum sampai terasa masuk di vena)
      15. Buka tourniquet dan anjurkan pasien membuka kepalan tangannya, masukkan obat secara perlahan jangan terlalu cepat
      16. Tarik jarum keluar setelah obat masuk (pada saat menarik jarum keluar tekan lokasi suntikan dengan kapas alkohol agar darah tidak keluar)
      17. Rapikan pasien dan bereskan alat
      18. Lepaskan sarung tangan
      19. Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, keringkan dengan handuk atau tissu
    3. Fase terminasi
      1. Evalusi respon klien terhadap tindakan yang dilakukan
      2. Rencana tindak lanjut
      3. Kontrak yang akan datang
  6. HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN
    1. Oleh karena injeksi ini menakutkan klien, maka usahakan agar klien tidak menjadi takut dengan memberikan penjelasan.
    2. Perhatikan tekhnik aseptik dan anti septik baik pada alat-alat maupun cara kerja.
    3. Jangan salah memberikan obat atau salah memberikan kepada klien lain, ingat prinsip enam  benar dalam pemberian obat.
    4. Perhatikan reaksi-reaksi klien setelah dapat disuntikan dan dicatat serta laporkan.
Sumber: nursingbegin.com

PERAWATAN LUKA HARIAN

Bagaimana perawatan harian pasien dengan luka lecet?
Luka lecet yang diberi kasa sofratul jadi cepat kering, tapi kasa sofratul menempel erat di kulit. Jika dipaksa diangkat, luka terkelupas dan menjadi basah lagi. Bagaimana solusinya?

Gunakan teknik kompres basah dahulu pada luka yang diberi sofratul:
  1. Lihat luka yang diperban/ditutupi sofratul, apakah masih basah atau sudah kering
  2. Bila kering dan sofratulnya menempel di kulit, sebaiknya dikompres kasa basah menggunakan NaCl hingga sofratul menjadi lembek dan bisa diangkat tanpa meninggalkan robekan/berdarah
  3. Bila sudah dibersihkan dengan NaCl kemudian diberikan sofratul baru pada luka sayat/combustio/ganggren dll. Jangan diperban terlalu kencang dan gunakan tehnik sterilisasi yang benar. Gunakan kain kasa yang sudah di sterilkan dibagian dalamnya
Sumber: keperawatankita.wordpress.com

PERAWATAN LUKA BERSIH

  1. TUJUAN
    1. Mempercepat penyembuhan
    2. Mencegah infeksi
    3. Memberi rasa nyaman
  2. PERSIAPAN  ALAT
    1. ALAT STERIL
      1. Duk steril
      2. Instrumen set (2 set)
      3. Sarung tangan
      4. Bethadin 10 %
      5. Sofratul
      6. Kain kasa
      7. Alkohol
    2. ALAT TIDAK STERIL
      1. Bengkok
      2. Tempat kotoran
      3. Tempat larutan lysol / saflon
      4. Pembalut
      5. Gunting verban
      6. Plester / Hepafik
      7. Perlak pengalas
  3. CARA KERJA
    1. Perawat cuci tangan, alat-alat disiapkan
    2. Pasien diberitahu, atur posisi pasien senyaman dan semudah mungkin
    3. Penutup & kasa diangkat / digunting dimasukan dalam bengkok tempat sampah ( pincet diletakan pada tempat on direndam larutan lisol / saflon)
    4. Luka dibersihkan dengan kasa bethadin memakai alat steril, searah dari dalam keluar
    5. Kasa kotor dibuang pada tempatnya
    6. Observasi keadaan luka
    7. Luka diberi obat (Sofratul) tutup kasa memakai alat steril(jaga kasa tidak melekat langsung pada luka tutup rapat dengan hepafik
    8. Alat-alat dibereskan, pasien dirapikan
    9. Perawat cuci tangan
    10. Dokumentasi
Sumber: keperawatankita.wordpress.com

MENGGANTI BALUTAN KERING

  1. Tujuan
    1. Balutan kering melindungi luka dengan draenase minimal terhadap kontaminasi mikroorganisme.
  2. Indikasi
    1. Untuk luka bersih tak terkontaminasi
    2. Luka steril
  3. Persiapan alat
    1. Set balutan steril dalam bak instrumen steril:
      1. Sarung tangan steril
      2. Pinset 3 (2 anatomis, 1 sirurgis)
      3. Gunting (menyesuaikan kondisi luka)
      4. Balutan kasa dan kasa steril
      5. Kom untuk larutan antiseptik atau larutan pembersih
      6. Salep antiseptik (bila dipesankan)
    2. Larutan pembersih yang diresepkan oleh dokter
    3. Gunting perban
    4. Larutan garam fisiologis
    5. Sarung tangan sekali pakai
    6. Plester, pengikat, atau balutan sesuai kebutuhan
    7. Bengkok 2 berisi lisol dan kosong
    8. Selimut mandi
    9. Perlak pengalas
  4. Prosedur pelaksanaan
    1. Jelaskan prosedur pada klien dengan menggambarkan langkah-langkah perawatan luka. Menghilangkan ansietas klien dan meningkatkan pemahaman proses penyembuhan.
    2. Susun semua peralatan yang diperlukan di meja dekat tempat tidur (jangan membuka peralatan). Mencegah kesempatan merusak teknik steril dengan kelalaian tak disengaja pada peralatan yang diperlukan.
    3. Ambil kantung sekali pakai dan buat lipatan diatasnya. Letakan kantung dalam jangkauan area kerja anda/letakkan bengkok dekat pasien. Mencegah kontaminasi tak disengaja pada bagian atas luar permukaan kantung. Jangan menyebrangi area steril untuk membuang balutan kotor.
    4. Tutup ruangan atau tirai disekitar tempat tidur. Tutup semua jendela yang terbuka. Memberikan klien privasi dan mengurangi udara yang dapat mentransmisikan mikroorganisme.
    5. Bantu klien pada posisi nyaman dan selimut mandi pasien hanya untuk memamparkan tempat luka. Intruksikan pasien untuk tidak menyentuh area luka atau peralatan steril.Gerakan tiba-tiba dari klien selama pengantian balutan dapat menyebabkan kontaminasi luka atau peralatan. Penutupan memberikan jalan masuk pada luka dan meminimalkan pemaparan yang tidak perlu
    6. Cuci tangan secara menyeluruh Menghilangkan mikroorganiosme yang tinggal dipermukaan kulit dan mengurangi transmisi patogen pada jaringan yang terpapar
    7. Pasang perlak pengalas
    8. Gunakan sarung tangan bersih sekali pakai dan lepaskan plester, ikatan, atau balutan dengan pingset. Sarung tangan mencegah trasmisi organisme dari balutan kotor pada tangan.
    9. Lepaskan plester dengan melepaskan ujung dan menariknya dengan perlahan, sejajar pada kulit dan mengarah pada balutan, (bila masih terdapat plester pada kulit, ini dapat dibersihkan dengan aseton/bensin). Mengurangi tegangan pada jahitan atau tepi luka.
    10. Dengan sarung tangan atau pinset, angkat balutan, pertahankan permukaan kotor jauh dari penglihatan klien. Penampilan draenasi dapat mengganggu klien secara emosional. Pengangkatan balutan dengan hati-hati dari balutan mencegah penarikan tak disengaja pada drain
    11. Bila balutan lengket pada luka, lepaskan dengan memberikan larutan steril atau NaCl. Mencegah kerusakan permukaan epidermal
    12. Observasi karakter dan jumlah drainase pada balutan. Memberikan perkiraan hilangnya drainase dan pengkajian kondisi luka
    13. Buang balutan pada bengkok, lepaskan sarung tangan dengan menarik bagian dalam keluar. Buang di tempat yang tepat (bengkok lisol). Prosedur mengurangi transmisi mikroorganisme untuk orang lain.
    14. Buka bak instrumen balutan steril atau secara individual tertutup bahan steril. Tempatkan pada di meja samping pasien. Balutan, gunting, dan pinset harus tetep pada bak instrumen steril atau dapat ditempatkan pada penutup steril yang terbuka digunakan sebagai area steril atau diatas kasa steril. Balutan steril dan bahan tetap steril saat atau dalam permukaan steril. Persiapan semua bahan mencegah merusak teknik selama mengganti balutan actual. 
    15. Bila penutup atau kemasan kasa steril menjadi basah akibat larutan antiseptik, ulangi persiapan bahan. Cairan bergerak melalui bahan dengan aksi kapiler. Mikroorganisme menjalar dari lingkungan tidak steril di atas meja atau linen tempat tidur menembus kemasan balutan ke balutan itu sendiri.
    16. Kenakan sarung tangan steril Memungkinkan anda memegang balutan steril, instrumen, dan larutan tanpa menyebabkan kontaminasi.
    17. Inspeksi luka. Perhatikan kondisinya, letak drein, integritas jahitan atau penutupan kulit, dan karakter drainase. (palpasi luka, bila perlu dengan bagian tangan non dominan, yang tidak akan menyentuh bahan steril). Menentukan status penyembuhan luka. (kontak dengan permukaan kulit atau dreinase mengkontaminasi sarung tangan).
    18. Bersihkan luka dengan larutan antiseptik yang diserapkan atau larutan garam fisiologis. Pegang kasa yang basahi dalam larutan dengan pinset. Gunakan satu kasa untuk setiap kali usapan. Bersihkan dari area yang kurang terkontaminasi ke area terkontaminasi. Gerakan dalam tekanan progresif menjauh dari insisi atau tepi luka. Penggunaan pinset mencegah kontaminasi jari yang memakai sarung tangan. Arah tekanan pembersihan mencegah introduksi organisme ke dalam luka.
    19. Gunakan kasa baru untuk mengeringi luka atau insisi. Mencegah kelembaban pada tempat luka, yang akhirnya dapat menjadi tempat tumbuh mikroorganisme.
    20. Berikan salep antibiotik bila dipesankan, gunakan teknik seperti langkah pada pembersihan. Jangan di oleskan ditempat drainase .Pengolesan yang diarahkan langsung pada balutan atau drainase dapat menghambat drainase.
    21. Pasang kasa steril kering pada insisi atau letak luka
      1. Pasang satu kasa setiap kali. Mencegah pemasangan balutan besar yang dapat mengganggu gerakan klien dan memastikan penutupan luka keseluruhan.
      2. Pasang kasa sebagai lapisan kontak. Meningkatkan absorbsi tepat terhadap drainase
      3. Bila terpasang drain, ambil gunting dan potong kasa kotak untuk dipasangkan disekitarnya. Balutan sekitar drain mengamankan letak drain dan mengobservasi drainase
      4. Pasang kasa lapisan kedua sebagai absorben Melindungi luka dari masuknya mikroorganisme
    22. Gunakan plester di atas balutan, amankan dengan ikatan atau balutan.. Memberikan dukungan pada luka dan menjamin penutupan lengkap dengan pamaparan minimal pada mikroorganisme.
    23. Lepaskan sarung tangan dan buang pada tempat yang telah disediakan dam buang semua bahan dan bantu klien kembali pada posisi nyaman. Lingkungan yang bersih meningkatkan kenyamanan klien.
    24. Cuci tangan mengurangi transmisi mikroorganisme.
    25. Dokumentasikan penggantian balutan, termasuk pernyataan respon klien, observasi luka, balutan dan drainase.. Dokumentasi yang akurat dan tepat waktu memberitahukan personal adanya perubahan personel adanya perubahan pada kondisi luka dan status klien.
Sumber: Retna Ambarwati
http://enyretnaambarwati.blogspot.com/2010/02/mengganti-balutan-kering.html

Jumat, 06 Mei 2011

HENTI JANTUNG (CARDIAC ARREST)

HENTI JANTUNG DAN PENATALAKSANAANNYA



Henti Jantung adalah terhentinya denyut jantung dan sirkulasi darah secara tiba-tiba pada seseorang yang sebelumnya tidak mengalami gangguan apa - apa. Henti jantung merupakan keadaan kegawatdaruratan kardiovaskuler. Keadaan ini kemudian diikuti dengan berhentinya fungsi pernafasan dan hilangnya kesadaran secara refleks. Resusitasi kardiopulmonal dan serebral harus segera dimulai segera setelah diagnosis ditegakkan. Jangan membuang - buang waktu dengan mengukur tekanan darah, menilai keadaan nadi dan membaca EKG.

Diagnosis cukup didasarkan atas gejala klinis sebagai berikut:

1. Gerakan pernafasan dan hembusan pernafasan yang menghilang atau sangat lemah; gasping (terengah - engah).

2. Denyut nadi menghilang atau sangat lemah, bradikardia atau takikardia yang sangat menyolok.

3. Hilangnya kesadaran.

4. Dilatasi pupil

5. Death like appearance

6. kulit keabuan atau putih atau sianosis,



Etiologi
Etiologi henti jantung antara lain karena:

1. Terhentinya sistem pernafasan secara tiba-tiba yang dapat disebabkan karena:

- Penyumbatan jalan nafas ; aspirasi cairan lambung atau benda asing

- Sekresi air yang terdapat dijalan nafas seperti yg terjadi pada keadaan tenggelam, edema paru, lendir yang banyak.

- Edema atau spasme saluran pernafasan bagian atas atau bagian bawah

- Kelainan anatomik seperti atresia choanal

- Depresi susunan saraf pusat, yang dapat disebabkan karena Obat-obatan, Racun, Rudapaksa, Arus listrik tegangan tinggi, Edema otak, Hipoksia berat, Hiperkapnia, Penyakit SSP ; ensefalitis, poliomielitis, dll.

2. Terhentinya peredaran darah secara tiba-tiba, yang disebabkan karena:

- Hipoksia, Asidosis, hiperkapnia karena penyakit paru atau karena henti pernafasan secara tiba-tiba.

- Rangsangan vagus misalnya karena penghisapan tenggorok, endoskopi, arus listrik tegangan tinggi

- Obat-obatan, terutama digitalis, kuinidin, kalium obat anastesia.

- Aritmia yang hebat, karena obat-obatan, penyakit jantung, kateterisasi jantung, dll

- Shock (trauma, perdarahan, sepsis, pada operasi dan pasca operasi, dehidrasi, dll)

- Keadaan terminal berbagai penyakit.

- Efusi perikardium dengan tamponade jantung.

3. Terganggunya fungsi sistem saraf, yang terjadi sebagai akibat terganggunya sistem pernafasan dan peredaran darah. Dalam susunan saraf pusat terjadi iskemia, hipoksi dan hiperkapnia, asidosis dan hipoglikemia, yang berakibat terganggunya metabolisme otak disertai dengan terjadinya edema serebri dan di ikuti dengan infark serebri.



Penatalaksanaan
Segera lakukan resusitasi

Langkah – langkah tindakan pada Resusitasi dapat dibagi menjadi tiga tahapan, yaitu :

Tahapan 1 : Bantuan hidup dasar / BLS

Tahapan 2 : Bantuan hidup lanjutan / ALS

Tahapan 3 : Bantuan hidup terus menerus / PLS



Prinsip

source: http://www.scribd.com/doc/43141682/Henti-jantung
  1. Jangan mencelakakan korban dengan metode yang salah
  2. Jangan membuang waktu untuk prosedur diagnostik yang tidak bergun
  3. Jangan memulai usaha apapun yang memakan biaya untuk menunda kematian bila kasus telah irreversibel


Penanganan
Penanganan pasien yang mengalami henti jantung yaitu pertama dilakukan resusitasi jantung paru dengan prinsip ABC.

Urutan tindakan dalam melakukan resusitasi jantung paru yaitu:

a. Pastikan keselamatan penolong dan pasien terjamin
b. Periksa pasien dan lihat responsnya
Goyang bahunya dan bertanya cukup keras. "Siapa namamu ?", "Coba buka matanya". Bila pasien menjawab atau bergerak, biarkan pasien tetap pada posisinya, periksa keadaan pasien secara berkala dan teratur. Bila pasien tidak memberi respons, berteriaklah mencari bantuan. Kemudian perbaiki posisi korban (terlentang dan berada pada permukaan yang keras dan rata). Jika korban dalam keadaan miring atau tengkurap, posisikan seperti diatas dengan membalikkan korban sebagai satu kesatuan antara kepala, leher dan bahu. Jika sudah terlentang, korban harus dipertahankan pada

posisi horizontal dengan alas rata dan keras serta tangan diletakkan di kanan dan kiri.

c. Bebaskan Airway
Periksa jalan nafas untuk mengetahui ada sumbatan atau tidak. Jika ada sumbatan bersihkan dulu. Jika sumbatan berupa cairan, hilangkan cairannya dengan jari telunjuk atau jari tengah yang diberi tissue atau kain, jika sumbatan keras maka dikorek dengan jari telunjuk yang dibengkokkan. Mulut dibuka dengan menggunakancr os finger, yaitu ibu jari diletakkan berlawanan dengan jari telunjuk pada mulut korban. Buka jalan napas dengan tengadah kepala topang dagu (Head Tilt – Chin Lift) dengan mendorong dahi dan mengangkat dagu. Posisikan telapak tangan pada dahi sambil mendorong dahi ke belakang (head tilt). Ibu jari dan telunjuk harus bebas agar dapat digunakan menutup hidung jika perlu memberikan napas buatan. Pada waktu yang sama ujung-ujung jari tangan yang lain mengangkat dagu (chin lift). Jika ada kecurigaan trauma leher jangan melakukan head tilt. Hanya lakukan Jaw Trush.

d. Lakukan bantuan Breathing
Setelah dilakukan pembebasan Airway, Sambil mempertahankan jalan napas bebas, lihat, dengar raba ada tidaknya udara pernapasan keluar masuk dengan cara melihat pergerakan dada turun naik, dan mendengar suara napas pada mulut pasien. Prosedur ini tidak boleh lebih dari 10 detik. Jika pernapasan memadai, posisikan pasien pada "recovery position" (jika tidak ada kecurigaan trauma leher), pastikan pernapasan tetap ada, bila ada beri oksigen 100 % dan carilah bantuan. Jika pasien tidak bernapas, telentangkan pasien, singkirkan semua sumbatan yang terlihat dari mulut pasien (misal gigi yang terlepas), beri 2 napas buatan yang efektif. Bantuan nafas bias dilakukan dengan mulut ke mulut (penolong harus mengambil nafas dalam, mulut korban harus tertutup seluruhnya oleh mulut penolong sehingga tidak ada kebocoran, dan penolong harus menutup lubang hidung korban), mulut ke hidung (jika mulut ke mulut tidak dimungkinkan, caranya kebalikannya mulut ke mulut), atau mulut ke stoma (lubang yang dibuat pada tenggorokan) (dilakukan jika 2 cara yang lain tidak bias, atau sudah dilakukan lariongotomi). Waktu yang dibutuhkan untuk tiap kali hembusan adlaah 1,2 – 2 detik dan volume udara yang dihembuskan adalah 400 – 500 ml (10 ml/kg) dengan konsentrasi oksigen 16 – 17 %.

Jika mengalami kesulitan dalam memberikan napas buatan yang efektif, periksa lagi apakah mulut pasien sudah bersih dari sumbatan, periksa apakah posisi "head tilt – chin lift" sudah benar.

e. Periksa tanda-tanda sirkulasi (Circulation)

(meskipun napas buatan belum berhasil) Cari apakah ada gerakan pasien (gerakan menelan atau bernapas), dan raba nadi karotis dileher korbandengan menggunakan 2 sampai 3 jari penolong dapat meraba pertengahan leher sehingga teraba trakhea, kemudian kedua jari digeser kebagian sisi kanan atau kiri kira – kira 1 - 2 cm, raba dengan lembut selam 5-10 detik. Jika yakin ada tanda-tanda sirkulasi, lanjutkan napas buatan sampai pasien bisa bernapas sendiri, tiap menit periksa lagi tanda-tanda sirkulasi. Jika pasien mulai bernapas tetapi tetap tidak sadar, posisikan pada "recovery position". Jika tidak ada tanda-tanda sirkulasi, mulai dilakukan pijat jantung (kompresi jantung luar) dengan cara:

1) Tentukan lokasi pijatan setengah-bagian bawah tulang dada (sternum) dengan telunjuk dan jari tengah menyusur tulang iga kanan atau kiri sampai titik temu dengan sternum.

2) Tempatkan tumit tangan satunya di atas sternum, 2 – 3 jari di atas procexus xyphoideus.

3) Tumit satunya diletakkan di atas tangan yang sudah berada tepat di titik pijat jantung.

4) Hindari jari – jari tangan menyentuh dinding dada korban, jari – jari tangan dapat diluruskan atau disilangkan.

5) Penolong mengambil posisi tegak lurus di atas dada pasien dengan siku lengan lurus, penekanan dinding dada koban dengan tenaga dari berat badannya secara teratur sebanyak 30 kali, tekanan sternum sedalam 3,8 – 5 cm (1,5 – 2 inci). Rasio bantuan sirkulasi dan pemberian nafas adalah 30 : 2 dan kecepatan kompresi 100 kali/menit. Tangan tidak boleh lepas dari permukaan dada dan atau merubah posisi tangan pada saat melepaskan kompresi.

6) Setiap setelah 30 kali pijat jantung lakukan head tilt – chin lift dan beri 2 napas buatan efektif. Lalu pijat jantung lagi 30 kali dan seterusnya (30 : 2).

7)selang waktu mulai dari menemukan pasien dan dilakukan prosedur dasar sampai dilakukan bantuan sirkulasi (kompresi dada) tidak boleh melebihi 30 detik.

f. Lanjutkan resusitasi sampai ada tanda-tanda kehidupan kembali atau bantuan yang lebih mampu datang atau penolong kelelahan sehingga kalau diteruskan akan membahayakan penolong, korban meninggal.

g. Jika korban sudah kembali nafas dan denyut nadi nya,lakukan posisi mantap pada korban.




(afi_chelsea)

Sabtu, 19 Februari 2011

Model Stres, LAS dan GAS

MODEL STRES
Model stres berdasarkan:
  • Respon
Model stres dari Selye (1976) adalah model berdasarkan respon yang mendefinisikan stres sebagai respon non-spesifik dari tubuh terhadap setiap tuntuan yang ditimpakan padanya
  • Adaptasi
Model adaptasi menunjukkan bahwa empat faktor menentukan apakah suatu situasi adalah menegangkan (Mechanic,1962)
Faktor pertama; biasanya bergantung pada pengalaman seseorang dengan stresor serupa,sistem dukungan dan persepsi keseluruhan
Faktor kedua; berkenaan dengan praktik dan norma kelompok sebaya individu
Faktor ketiga; adalah dampak dari lingkungan sosial dalam membantu seorang individu untuk beradaptasi terhadap stresor
  • Stimulus
Model ini berfokus pada karakteristik yang mengganggu atau disruptif di dalam lingkungan
Model berdasarkan stimulus memfokuskan pada asumsi berikut (Mc Nett, 1989):
  1. Peristiwa perubahan dalam kehidupan adalah normal dan perubahan ini membutuhkan tipe dan durasi penyesuaian yang sama
  2. Individu adalah resipien pasif dari stres dan persepsi mereka terhadap peristiwa adalah tidak relevan
  3. Semua orang mempunyai ambang stimulus yang sama dan penyakit dapat terjadi pada setiap titik ambang tersebut
Local Adapation Syndrome (LAS)
Karakteristik LAS:
  • Respon yang terjadi hanya setempat dan tidak melibatkan semua sistem
  • Respon yang bersifat adaptif
  • Diperlukan stresor untuk menstimulasinya
  • respon bersifat jangka pendek dan tidak terus menerus
  • Respon bersifat restoratif
  • Respon LAS banyak ditemui dalam kehidupan sehari-hari yaitu:
  1. Respon inflamasi; distimulasi oleh adanya trauma dan infeksi. Respon ini memusatkan diri hanya pada area tubuh yang trauma sehingga penyebaran inflamasi dapat dihambat dan proses penyembuhan dapat berlangsung cepat
  2. Respon refleks nyeri; respon ini meurpakan respon adaptif yang bertujuan melindungi tubuh dari kerusakan lebih lanjut, misalnya: mengangkat kaki ketika bersentuhan dengan benda tajam
General Adaptation Syndrome (GAS)
GAS merupakan respon fisiologis dari seluruh tubuh terhadap stres. respon yang terlibat di dalamnya adalah sistem saraf otonom dan sistem endokrin. Di beberapa buku teks, GAS sering disamakan dengan sistem Neuroendokrin.
GAS terdiri dari beberapa fase:
  1. Reaksi Alarm (peringatan); melibatkan pengerahan mekanisme pertahanan dari tubuh seperti pengaktifan hormon yang berakibat meningkatnya volume darah dan akhirnya menyiapkan individu untuk bereaksi. Hormon lainnya dilepas untuk meningkatkan kadar gula darah yang bertujuan untuk menyiapkan energi untuk keperluan adaptasi, teraktifasinya epineprin dan norepineprin mengakibatkan denyut jantung meningkat dan peningkatan aliran darah ke otot, peningkatan pengambilan oksigen dan meningkatnya kewaspadaan mental. Aktifasi hormonal yang luas ini menyiapkan individu untuk melakukan respon melawan atau menghindar. Bila stresor masih menetap maka individu akan masuk ke dalam fase resistensi
  2. Fase resistensi; tubuh kembali stabil, termasuk hormon, denyut jantung, tekanan darah dan carciac output. Individu tersebut berupaya beradaptasi terhadap stresor, jika ini berhasil maka tubuh akan memperbaiki sel-sel yang rusak. Bila gagal maka individu akan jatuh pada tahap terakhir dari GAS yaitu fase kehabisan energi
  3. Fase kehabisan energi; tahap ini cadangan energi telah menipis atau habis. Akibatnya tubuh tidak mampu lagi menghadapi stres. Ketidakmampuan tubuh untuk mempertahankan diri terhadap stresor inilah yang berdampak pada kematian individu tersebut.
Sumber:
http://blogs.unpad.ac.id/SGD_TUTOR2/?p=23